Dunia Air di Planet GJ 1214b

Tahun 2009,  planet GJ 1214b ditemukan oleh tim astronom. Planet yang satu ini menarik perhatian karena ia merupakan planet pertama yang ditemukan memiliki atmosfer yang cukup tebal. Apalagi dengan posisinya yang juga tidak jauh dari bintang induknya meskipun planet GJ 1214b merupakan planet yang dingin, tapi ia cukup hangat untuk bisa mempertahankan air di dalamnya untuk tetap berwujud cair.

Dalam pengamatan di tahun 2009 saat planet GJ 1214b ditemukan para astronom menduga 3 teori kemungkinan untuk keberadaan atmosfer di planet tersebut. Teori pertama menyebutkan kalau planet ini dikelilingi oleh air, dalam bentuk uap air. Hal ini karena si planet berada dekat dengan bintang.  Yang kedua adalah kemungkinan kalau planet GJ 1214b merupakan planet batuan yang atmosfernya sebagian besar merupakan hidrogen. Dan kemungkinan ketiga adalah  GJ 1214b  merupakan Neptunus mini dengan inti batuan dan atmosfer bagian dalam kaya dengan hidrogen.

Di tahun 2010, hasil pengamatan spektroskopik yang dipimpin oleh Jacob Bean (Harvard–Smithsonian Center for Astrophysics) menunjukkan tidak ada tanda-tanda keberadaan hidrogen di atmosfer GJ 1214b. Dengan demikian kemungkinan ke-3 pun gugur.  Terisa dua kemungkinan lain terkait kandungan atmosfer di planet GJ 1214b. Apakah ia kaya dengan uap air atau justru diselimuti awan dan kabut.

Apakah GJ 1214b akan tetap menjadi misteri?

Dunia Baru GJ 1214b
Jika kita menilik Tata Surya, maka planet yang mengelilingi Matahari tidaklah seragam. Ada setidaknya 3 tipe planet yakni planet batuan atau dikenal juga sebagai planet kebumian (Merkurius, Venus, Bumi dan Mars), planet gas raksasa (Jupiter dan Saturnus) dan planet es raksasa (Uranus dan Neptunus). Itu baru di Tata Surya. Pada sistem keplanetan yang mengorbit bintang selain matahari, tipe planet yang ditemukan jauh lebih beragam, termasuk di dalamnya planet lava dan planet Jupiter panas.

Pengamatan Teleskop Hubble pada planet GJ 1214b ternyata menghasilkan cerita baru sekaligus menambahkan satu lagi tipe baru planet. Astronom Zachory Berta dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, melakukan analisa data GJ 1214b dan berhasil membuktikan kalau planet GJ 1214b tersebut merupakan sebuah planet air yang diselimuti atmosfer uap tebal.

Dan menariknya lagi, GJ 1214b ini tidak seperti planet lain yang sudah diketahui selama ini. Sebagian besar massanya justru tersusun oleh air!

Exoplanet GJ 1214b
http://astronesia.blogspot.com/
GJ 1214b planet air dengan atmosfer tebal. Kredit : NASA, ESA, & D. Aguilar (Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics)

Planet GJ 1214b ditemukan pada tahun 2009 dalam proyek landas Bumi MEarth (baca: mirth) yang dipimpin oleh David Charbonneau dari (Harvard–Smithsonian Center for Astrophysics). Planet yang tergolong sebagai planet Super Bumi tersebut memiliki ukuran 2,7 diameter Bumi dan  massanya hampir 7 kali massa Bumi. Dari komposisi ukuran tersebut, GJ 1214b tergolong berada di antara ukuran Bumi dan planet es raksasa Uranus dan Saturnus.

Exoplanet GJ 1214b bergerak mengelilingi bintang induknya setiap 38 jam pada jarak 2 juta km dari sang bintang, atau sekitar 70 kali lebih dekat dari orbit Matahari – Bumi (150 juta km). Dperkirakan temperatur permukaan planet GJ 1214b mencapai 232º Celsius.

Planet GJ 1214b mengorbit bintang GJ 1214 yang massanya lima kali lebih kecil dari massa Matahari dan kecerlangan 300 kali lebih redup. Bintang ini berada pada jarak 40 tahun cahaya di rasi Ophiuchus. GJ 1214 merupakan bintang kelas M atau bintang katai merah yang masih tergolong bintang dingin dengan temperatur permukaan hanya berkisar 2700 derajat Celcius. (- temperatur permukaan Matahari mencapai kisaran 5500 derajat Celsius)

Dunia Air
Tahun 2010, Jacob Bean melakukan penelitian pada atmosfer GJ 1214b dan menemukan atmosfer di planet tersebut memiliki air sebagai penyusun utama. Tapi, sebagai argumentasi dapat juga dijelaskan dengan keberadaan kabut di atmosfer GJ 1214b.

Dalam pengamatan dan penelitian exoplanet GJ 1214b kali ini, Berta dan rekan-rekannya menggunakan instrumen WFC3 milik Hubble untuk mempelajari GJ 1214b saat ia melintas di depan bintang (dari sudut pandang pengamat). Saat terjadi transit seperti itu, cahaya bintang disaring melalui atmosfer planet sehingga pengamat bisa mendapatkan petunjuk  campuran kandungan gas di dalamnya. Dalam kasus GJ 1214b, Berta menggunakan Hubble untuk mengukur warna inframerah dari terbenamnya bintang di planet tersebut.
Jika yang ada di atmosfer itu adalah kabut, maka kabut akan transparan terhadap cahaya inframerah dibanding cahaya tampak. Karena itu, pengamatan Hubble dapat memberikan perbedaan antara atmosfer yang disusun oleh uap atau kabut.

Hasil analisa pengamatan menunjukkan spektrum GJ 1214b tidak memiliki sifat khusus pada rentang panjang gelombang yang luas. Model atmosfernya tetap konsisten dengan data Hubble yakni atmosfer rapat yang disusun oleh uap air.

Karena massa dan ukuran planet sudah diketahui, maka para astronom pun dapat menghitung kerapatan planet yakni sekitar 2 gram / cm3. Air dalam hal ini memiliki kerapatan 1 gram/cm3, sementara di Bumi kerapatan rata-rata adalah 5,5 gram/cm3. Karena itu disimpulkan kalau GJ 1214b memiliki lebih banyak air dan hanya memiliki sedikit batuan.

Dari karakteristik planet tersebut maka bisa disimpulkan kalau struktur internal GJ 1214b akan sangat berbeda dari Bumi yang kita kenal. Temperatur dan tekanan yang tinggi akan membentuk material eksotik seperti “es panas” atau “air superfluida” -substansi yang benar-benar asing bagi manusia.

Bagaimana planet ini terbentuk? Para ahli teoritis menduga GJ 1214b terbentuk di lokasi yang lebih jauh dari bintang dimana air es berlimpah dan kemudian melakukan migrasi ke bagian dalam sistem di awal sejarah sistem keplanet di bintang GJ 1214. Dalam proses migrasi, GJ 1214b juga melintasi zona laik huni bintang. Tapi berapa lama ia akan bertahan di sana belum diketahui.

Keberadaan GJ 1214b yang hanya berjarak 40 tahun cahaya dari Bumi di rasi Ophiuschus menjadikan planet ini sebagai kandidat utama yang akan dipelajari oleh Teleskop James Webb.

Planet Gliese 667C c, Exoplanet Laik Huni di Sistem Tiga Bintang

Sebuah planet baru kembali ditemukan! Dan yang menarik tentu saja lokasi keberadaannya yang berada di zona laik huni bintang induknya. Artinya planet tersebut bisa mempertahankan air dalam wujud cair di permukaannya. Dan ini adalah indikasi pertama dari sebuah planet laik huni.


Planet baru tersebut merupakan planet Bumi Super dengan indikasi merupakan planet laik huni yang mengitari bintang dekat. Planet Gliese 667C c a.k.a GJ667C c, planet yang saat ini berpotensi sebagai planet laik huni dan kandidat terbaik dari exoplanet serupa Bumi. Meski tentu saja untuk bisa memberi kesimpulan akhir masih dibutuhkan pengamatan lanjutan untuk mengkonfimasi kemampuan mempertahankan kehidupan di exoplanet tersebut.

http://astronesia.blogspot.com/
Ilustrasi sistem keplanetan Gliese 667C yang memiliki planet di zona laik huni. Kredit : Guillem Anglada-Escudé

Planet Gliese 667C c
Planet Bumi Super yang menjadi kandidat planet laik huni Gliese 667C c merupakan planet yang menginduk pada salah satu bintang di sistem bintang bertiga. Ia mengitari bintang induknya dalam waktu 28 hari dan memiliki massa minimum 4,5 kali massa Bumi. Dan pastinya, si planet ini berada dalam zona laik huni bintang. Lokasi yang tidak terlalu panas dan tidak terllau dingin untuk keberadaan air dalam wujud cair di permukaan planet.

Diagram sistem keplanetan Gliese 667C. Kredit : UC Santa Cruz

Hasil penelitian tim internasional ini juga menunjukkan adanya kemungkinan keberadaan 2 atau 3 planet lagi yang ikut mengitari bintang dengan jarak 22 tahun cahaya dari Bumi di rasi Scorpius.  Gliese 667C c mengitari bintang katai merah Gliese 667C bersama planet Gliese 667C b, dan jarak Gliese 667C c dari bintang induknya sangat dekat yakni 0,12 SA. Jauh lebih dekat dari Merkurius ke Matahari. Tapi bintang induknya jauh lebih redup dari Matahari dan bisa memberikan energi yang cukup bagi planet untuk menjaga temperatur kebumiannya.

Temperatur di Gliese 667C c memang masih belu dapat dipastikan, tapi jika diasumsikan ia memiliki atmosfer kebumian yang sama, maka temperaturnya bisa jadi berkisar ~30º C dan seraga di seluruh planet. Tapi jika si planet memiliki atmosfer yang lebih masif, temperaturnya akan lebih tinggi dan tidak akan cocok bagi kehidupan.

Komposisi Gliese 667C c memang masih belum diketahui karena ukurannya juga belum diketahui, salah satu komponen penting yang digunakan untuk menghitung kerapatan.  Bisa saja planet Gliese 667C c merupakan planet batuan, lautan atau bahkan planet gas.  Hanya planet batuan atau planet lautan yang bisa dikategorikan sebagai planet laik huni. Untuk memenuhi kriteria itu, ukuran radiusnya haruslah di antara 1,7 – 2,2 radius Bumi.

Untuk mengetahui ukuran planet Gliese 667C c bisa dilakukan melalui metode transit seperti yang dilakukan Kepler. Tapi untuk kasus Gliese 667C c, kemungkinan ia adalah exoplanet transit sangatlah kecil.

Sistem Bintang Bertiga
Bintang induk dari planet Gliese 667C c, bintang Gliese 667C merupakan bintang katai kelas M yang mengorbit bintang Gliese 667A dan Gliese 667B pada jarak lebih dari 230 SA (sekitar 6 kali jarak Matahari – Pluto). Artinya, bintang Gliese 667C merupakan bagian dari sistem bintang bertiga. Meskipun demikian, lingkungan termal Gliese 667C c hanya dipengaruhi oleh sang bintang induk dan tidak dipengaruhi oleh dua bintang lainnya.

Dua bintang lainnya Gliese 667A dan Gliese 667B merupakan pasangan katai coklat oranye dengan konsentrasi kelimpahan elemen berat hanya 25% dari yang dimiliki Matahari. Elemen tersebut merupakan penyusun penting dalam membentuk sebuah planet kebumian. Karena itu diperkirakan kalau bintang dengan kelimpahan logam yang rendah tidak akan dapat memiliki kelimpahan planet bermassa rendah. Hal yang sama juga pada Gliese 667C. Bintang ini hanya memiliki sedikit kelimpahan elemen yang lebih berat dari helium seperti besi, karbon dan silikon.  Penemuan ini memberi indikasi kalau planet yang potensial untuk laik huni bisa muncul di lingkungan yang jauh berbeda dari yang diketahui sebelumnya.

Pengamatan Gliese 667C c
Tim pengamat yang terdiri dari astronom seperti Steven Vogt dan Eugenio Rivera (UC Santa Cruz) dan dipimpin oleh Guillem Anglada-Escudé dan Paul Butler (Carnegie Institution for Science), menggunakan data publik dari ESO dan kemudian menganalisa data tersebut. Selai itu mereka melakukan pengukuran ulang dengan menggunakan High Resolution Echelle Spectrograph dari W. M. Keck Observatory dan spektograf baru Carnegie Planet Finder Spectrograph pada teleskop Magellan II. Teknik yang mereka gunakan adalah mencari goyangan kecil pada gerak bintang yang disebabkan oleh gangguan gravitasi si planet.

Dalam sistem yang sama, telah ditemukan juga sebelumnya planet Bumi Super Giese 667C b dengan periode 7,2 hari meski tidak pernah dipublikasikan. Orbit planet tersebut sangat dekat dengan bintang sehingga akan terlalu panas untuk keberadaan air dalam wujud cair. Pengamatan baru akan dilakukan untuk menentukan parameter orbit dari planet Gliese 667C b tersebut.

Selain Gliese 667C c, para astronom juga menemukan planet gas raksasa dan tambahan planet Bumi Super lainnya yang mengorbit dengan periode 75 hari. Tapi untuk mengkonfirmasi keberadaannya masih dibutuhkan pengamatan lanjutan di masa depan.

Sampai saat ini dunia exoplanet sudah memiliki 750 planet yang sudah dikonfirmasi dan masih ada 2000 kandidat planet yang dilihat wahana Kepler yang maish harus dicari tahu apakah mereka benar-benar planet ataukah bukan. Dan manusia pun semakin mendekati impian dan harapannya untuk menemukan planet kembar Bumi lainnya di jagad semesta ini.

Sumber : UC Santa Cruz, W.M. Keck Observatory, Planetary Habitability Laboratory

Planet Gliese 436c, “Planet Tetangga” Yang Lebih Kecil dari Bumi

Satu lagi kandidat planet baru berhasil ditemukan. Kali ini ukurannya cuma 2/3 Bumi dan berada tidak jauh dari Bumi. Hanya berjarak 33 tahun cahaya. Tetangga terdekat Tata Surya yang lebih kecil dari Bumi.



Ilustrasi sistem GJ 436 dengan planet GJ 436c. Kredit: NASA/Spitzer

Exoplanet Lebih Kecil dari Bumi
Planet merupakan obyek yang bergerak mengitari Bintang. Di Tata Surya, mereka bergerak mengelilingi Matahari tapi bukan berarti di bintang lain tidak ada planet. Tapi untuk menemukan planet seukuran Bumi atau bahkan yang lebih kecil dari Bumi bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan alat yang mumpuni untuk bisa mendeteksi keberadaan mereka. Wahana Kepler sudah membuktikan kemampuannya lewat ribuan kandidat planet yang ditemukan yang puluhan diantaranya masuk kategori seukuran Bumi.

Kali ini, Teleskop Spitzer melakukan pengamatan transit pada exoplanet yang sudah ditemukan di sistem bintang katai merah Gliese 436 di rasi Leo yakni planet Gliese 436b. Pada saat Kevin Stevenson dari University of Central Florida mengamati Gliese 436b, mereka justru menemukan adanya bukti kuat keberadaan planet kecil yang panas dengan jarak yang sangat dekat. Ternyata dugaan itu tidak salah. Dalam data Spitzer para astronom berhasil melihat “berkurangnya” cahaya inframerah yang datang dari bintang. Dan penurunan cahaya ini berbeda dari kedipan aka melemahnya cahaya bintang yang disebabkan oleh GJ 436b.

Para astronom kemudian melakukan telaah data Spitzer dan menemukan kalau si kedipan tadi terjadi secara berkala, mengindikasikan keberadaan sebuah planet lain yang juga mengorbit bintang dan menghalangi sejumlah kecil cahaya bintang ketika si planet lewat di depannya aka transit. Obyek yang awalnya menjadi kandidat exoplanet yang diberi kode UCF-1.01 dan kemudian dikonfirmasi menjadi exoplanet Gliese 436c atau planet ke-2 di sistem Gliese 436.

Penemuan Gliese 436c juga menjadi penemuan pertama bagi Spitzer. Yang artinya memberikan kemungkinan baru bagi Spitzer untuk turut membantu menemukan planet yang memiliki potensi laik huni atau planet-planet berukuran terrestrial. Keberhasilan Spitzer mengidentifikasi GJ 436c juga menjadi indikasi kalau suatu hari kelak manusia bisa mengenali karakter si planet dengan instrumen yang akan dibangun di masa depan.


Gliese 436c
Apa yang menarik dari planet GJ 436c yang baru ditemukan tersebut? Yang menjadi perhatian bagi banyak pihak adalah ukurannya yang hanya 2/3 ukuran Bumi dan berada tak jauh hanya 33 tahun cahaya. Tapi dari lamanya transit dan sedikitnya pelemahan pada cahaya bintang, para astronom berhasil mengetahui kalau diameternya 8400 km atau 2/3 ukuran Bumi dengan kala revolusi hanya 1,4 hari. Planet ini mengorbit bintang katai merah GJ436 dari jarak 0,019 SA atau jauh lebih dekat dari jarak Merkurius ke Matahari. Dengan jarak yang sedemikian dekat, tak pelak temperatur permukaan GJ 436c ini lebih dari 600º Celsius.

Dengan suhu demikian panas laksana panggangan, seandainya GJ 436c  memiliki atmosfer maka dapat dipastikal kalau atmosfernya sudah menguap. Diperkirakan planet kecil tersebut merupakan sebuah dunia yang sebagian besar diisi oleh kawah mati akibat aktivitas geologi seperti halnya Merkurius.  Tapi, Josseph Harrington dari University of Central Florida yang merupakan pimpinan tim peneliti ini memberikan kemungkinan lain. Ia justru menduga kalau panas ekstrim di GJ 436c justru menyebabkan permukaan planet meleleh. Artinya, si planet diselimuti oleh magma.

Ada hal menarik lainnya dari sistem Gliese 436. Selain kedua planet yang sudah ditemukan, para astronom juga mengindikasikan keberadaan kandidat planet ke-3 yang diberi kode UFC-1.02 yang juga mengorbit GJ 436 yang diduga memiliki massa 1/3 massa Bumi.

Masih banyak misteri yang harus dipecahkan dari alam semesta ini. Namun diharapkan di masa depan, satu per satu misteri itu bisa diungkapkan.

sumber:langitselatan.com

Alam Semesta Kita Pernah Menerobos Alam Semesta Lain

Para ilmuwan mengatakan telah menemukan bukti bahwa pola empat lingkaran konsentris yang ditemukan dalam peta radiasi berlatar belakang gelombang mikro kosmik adalah “goresan alam semesta”. Credit: epochtimes.co.id
Para ilmuwan baru-baru ini menyatakan mereka menemukan bukti bahwa alam semesta di mana kita berada pada masa silam pernah mengalami “diterobos” oleh alam semesta paralel lain.

Menurut laporan Daily Mail, Inggris, Universitas London Institut Fisika dan astronomi Stephen Feeney dan setelah melakukan studi terhadap latar belakang gelombang mikro kosmik (radiasi yang tersisa dari big bang) alam semesta, telah memperoleh kesimpulan mengejutkan. Tim mengatakan mereka telah menemukan bukti pola empat  lingkaran konsentris yang ditemukan dalam latar belakang gelombang mikro kosmik, adalah “goresan alam semesta”. Ini menandakan alam semesta di mana kita berada setidaknya telah empat kali memasuki alam semesta paralel lainnya.

Penemuan ini berdasarkan teori pemuaian abadi alam semesta yang ada sekarang ini, juga dikenal sebagai teori Multi Alam Semesta. Teori ini berpendapat ruang yang luas dari alam semesta terbentuk oleh sangat banyak alam semesta independen, yang masing-masing alam semesta dapat memiliki sub-alam semesta dengan jumlah tidak terbatas. Alam semesta di mana kita hidup hanyalah salah satu jagad raya di alam semesta tak terhitung jumlahnya. Para ilmuwan percaya bahwa tabrakan antara alam semesta yang berbeda dapat meninggalkan jejak tertentu dalam radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik alam semesta.

Temuan tersebut saat ini masih kontroversial. Penerbitan makalah penelitian ini mendapat respon dan masukan dari sejumlah astronom yang menganggap apa yang dilihatnya dalam peta radiasi dengan latar belakang kosmik gelombang mikro terlalu dini untuk suatu kesimpulan.

Tim Feeney sendiri juga mengakui: “Dalam sebuah peta radiasi berlatar belakang gelombang mikro kosmik dari sedemikian besar database untuk mencari data statistik memang tidak selalu dapat diandalkan Namun jika dikonfirmasi untuk memiliki data yang dapat diandalkan untuk masa depan, membuktikan telah terjadi tabrakan antar alam semesta, maka kita bukan saja akan memiliki informasi alam semesta kita sendiri bahkan juga memperoleh informasi tentang alam semesta lain.”

Struktur lingkaran konsentris yang ditemukan Vahe Gurzadyan dari Institut Fisika Yerevan Armenia melalui analisis probe WMAP struktur data. Credit: epochtimes.co.id
Siklus kosmik tak pernah berhenti

Baru sebulan lalu, Vahe Gurzadyan dari Institut Fisika Yerevan Armenia dan seorang ahli fisika teoritis di Universitas Oxford, Inggris, Roger Penrose menerbitkan makalah penelitian bahwa bukti yang ditunjukkan satelit eksplorasi dari WMAP milik NASA Amerika Serikat menunjukkan waktu terjadinya radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik alam semesta jauh lebih awal daripada big bang (ledakan besar).  

Ini menunjukkan waktu pembentukan alam semesta jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Penrose dan Gurzadyan mengatakan jejak yang ditinggalkan big bang sebelumnya, disimpan di dalam alam semesta pada latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB). Latar belakang gelombang mikro kosmis dewasa ini masih dalam kondisi 300.000 tahun setelah big bang, sehingga menyimpan informasi alam semesta awal. Bahkan, Penrose dan Gurzadyan kali ini menemukan adanya pola lingkar konsentris didalam latar belakang gelombang mikrokosmis.

Penrose menjelaskan, bahwa pola lingkar konsentris dalam CMB  ini menandakan bahwa alam semesta adalah siklus abadi yang berkesinambungan. Hal ini berarti bahwa setiap siklus diakhiri dengan sebuah big bang atau ledakan  yang menghasilkan “aeon” baru, yang merupakan siklus baru alam semesta, terus menerus bersirkulasi seperti itu. Aeon itu pada gilirannya lahir dalam big bang yang muncul dari ujung Aeon sebelumnya, dan seterusnya, menciptakan siklus potensial tak terbatas tanpa awal dan akhir.

Penrose menamai teorinya sebagai Conformal Cyclic Cosmology, dia percaya, alam semesta bukan berasal dari big bang tetapi melalui sebuah siklus abadi yang berkesinambungan. Setiap kali kiamat dimulai lagi dari awal, dengan konsistensi tingkat tinggi. Berhubung perkembangannya dan proses terbentuknya benda, alam semesta menjadi kurang bersatu. Jika waktu yang cukup panjang telah berlalu, semua materi pada  akhirnya akan tersedot ke dalam lubang hitam.

Stephen Hawking telah membuktikan bahwa lubang hitam akhirnya hilang dalam hembusan ledakan radiasi. Proses ini akan meningkatkan kesatuan alam semesta yang pada akhirnya kembali ke tingkat awal alam semesta. Big bang yang terjadi pada 13,7 miliar tahun yang lalu, bukanlah awal dari segalanya, ia hanya yang terbaru dalam serangkaian big bang. Dan ketika alam semesta menjadi lelah, mereka akan membangun dunia kembali melalui big bang. (Sumber: epochtimes.co.id)

Ukuran Alam Semesta 250 Kali Lipat Lebih Luas Dari Perkiraan Sebelumnya


http://astronesia.blogspot.com/

Apakah alam semesta memiliki ukuran pasti atau tak terbatas? Berhubung ukuran alam semesta yang dapat dilihat semakin meluas, benda berjarak terjauh yang bisa dilihat menjadi jauh lebih tua dibanding yang diperkirakan yakni sekitar 14 miliar tahun.

Diketahui, photon pada latar belakang gelombang mikro kosmik telah menempuh waktu 45 miliar tahun untuk tiba di Bumi. Itu berarti, alam semesta yang terlihat oleh mata setidaknya memiliki ukuran seluas 90 miliar tahun cahaya.

Namun demikian, ternyata alam semesta jauh lebih luas lagi. Ini bisa diketahui berkat analisis statistik yang dibuat oleh Mihran Vardanyan dan rekan-rekannya, peneliti dari University of Oxford.

Menurut Vardanyan, seperti dikutip dari Daily Galaxy, Rabu 4 Mei 2011, kunci dari mengetahui ukuran sebenarnya dari alam semesta adalah dengan mengukur lengkungannya.

Sebelumnya, astronom memiliki beberapa metode untuk mengukur lengkungan tersebut. Salah satunya, menurut Technology Review dari Massachusetts Institute of Technology, adalah menggunakan objek yang berada di jarak jauh yang sudah diketahui ukurannya dan membandingkan dengan seberapa besar ia terlihat.

Jika objek itu tampak lebih besar dibanding seharusnya, alam semesta tertutup. Jika ukurannya tampak sama seperti seharusnya, alam semesta berbentuk datar. Namun, jika lebih kecil, berarti alam semesta terbuka (tak terhingga).

Masalahnya, saat ilmuwan mengamati berbagai data dari bermacam model, mereka mendapatkan jawaban yang berbeda-beda untuk mengetahui jawaban pasti seputar lengkungan dan ukuran alam semesta. Lalu, mana yang paling akurat di antaranya?

Terobosan yang diambil Vardanyan dan timnya disebut dengan nama Bayesian model averaging. Teknik ini lebih cerdas dibandingkan dengan menggunakan pengukuran lengkungan yang umum digunakan ilmuwan untuk menjelaskan data yang mereka miliki.

Menurut permodelan yang dibuat Vardanyan, lengkungan alam semesta sangat dekat dengan 0. Dengan kata lain, kemungkinan besar, alam semesta berukuran datar.

Sebuah alam semesta yang berbentuk datar juga bisa tak terbatas. Dan kalkulasi yang dibuat oleh Vardanyan juga konsisten dengan hal ini. Dari perhitungan, alam semesta memiliki ukuran setidaknya 250 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Hubber volume yang berukuran 13,8 miliar tahun cahaya.

Galaksi M65 dan M66


http://astronesia.blogspot.com/

Berdekatan dan cerah, galaksi spiral M65 (diatas) dan M66 terlihat menonjol dalam potret kosmik ini. Pasangan tersebut berjarak hanya 35 juta tahun cahaya jauhnya dan terbentang sekitar 100.000 tahun cahaya, kurang lebih seukuran galaksi spiral Bima Sakti kita.

Sementara keduanya menunjukkan jalur debu yang prominen di sepanjang lengan spiral luas mereka, M66 secara khusus memiliki kontras yang mencolok dalam warna merah dan biru, cahaya telltale pinkish - tanda gas hidrogen membentuk daerah-daerah dan gugusan bintang muda biru. M65 dan M66 membentuk dua pertiga dari galaksi Triplet Leo yang terkenal dengan warps (red. bentuk pelintiran) dan tidal tails yang menunjukkan bukti pertemuan kelompok ini di masa lampau. M66 yang lebih luas telah menjadi host untuk empat penemuan supernova sejak

Triplet Sagitarius

http://astronesia.blogspot.com/

Ketiga nebula terang ini sering ditampilkan dalam tur teleskopik konstelasi triplet sagitarius dan gugusan bintang padat dari pusat bimasakti. Bahkan, penjelajah kosmik abad ke-18 – Charles Messier mengkategorikan keduanya, M8, nebula besar disebelah kiri dari pusat, dan M20 yang penuh warna di sebelah kanan. Yang ketiga, NGC 6559, berada di atas M8, dipisahkan dari nebula yang lebih besar dengan jalur debu gelap. 

Ketiganya adalah bintang nurseries (pembibitan bintang) sekitar lima ribu tahun cahaya atau lebih jauhnya. M8 yang ekspansif, lebih dari seratus tahun cahaya jaraknya, juga dikenal sebagai Nebula Lagoon. Sebutan populer M20 adalah Trifid. Gas hidrogen berpijar membentuk warna merah yang dominan dari emisi nebula tersebut, dengan kontras warna biru – yang paling mencolok pada Trifid, akibat debu yang terefleksi cahaya bintang. Pemandangan langit yang luas ini juga mencakup salah satu cluster bintang terbuka Messier, M21, tepat di atas kanan Trifid.

IC 1396: Emisi Nebula di Cepheus


http://astronesia.blogspot.com/

Emisi nebula IC 1396 yang menakjubkan membaurkan pijar gas kosmik dan awan debu gelap di konstelasi tinggi dan jauh Cepheus. Ditenagai oleh pusat bintang yang terang kebiruan yang terlihat disini, bintang ini membentuk daerah yang terbentang sekitar ratusan tahun cahaya – mencakup lebih dari tiga derajat di langit sementara berjarak hampir sekitar 3,000 tahun cahaya dari planet Bumi.

Diantara bentuk gelap menarik dalam IC 1396,  nebula Elephant’s Trunk terletak tepat dibawah pusat. Pemandangan warna cantik ini adalah komposisi lempengan digital fotografi hitam dan putih yang terekam melalui filter astronomikal merah dan biru. Lempengan ini diambil dengan menggunakan teleskop Samuel Oschin, instrumen survei yang lebar di observatori Palomar, antara tahun 1989 dan 1993.

Nebula Gelembung NGC 7635




Nebula Gelembung

http://astronesia.blogspot.com/

Tertiup oleh angin dari bintang masif, pemandangan antar-bintang ini memiliki bentuk yang cukup akrab. Di-katalog-kan sebagai NGC 7635, dikenal juga sebagai The Nebula Bubble (Nebula Gelembung). Meskipun terlihat rumit, diameter bubble berukuran 10 tahun cahaya menawarkan bukti proses dasyat yang sedang berlangsung.

Di atas dan kanan dari pusat Bubble adalah sebuah bintang panas, beberapa ratus ribu kali lebih cemerlang dan sekitar 45 kali lebih masif dari Matahari. Sebuah angin bintang dan radiasi dari bintang telah meledak di luar struktur gas bercahaya terhadap bahan padat dalam awan molekul sekitarnya. Nebula Gelembung yang menarik ini terletak hanya 11.000 tahun cahaya ke arah konstelasi Cassiopeia. Gambar dari gelembung kosmik ini disusun dari data gambar narrowband dan broadband, menangkap detail di wilayah emisi sambil merekam pemandangan alam bintang.

Sh2-101 Tulip di Swan


http://astronesia.blogspot.com/
Membingkai wilayah beremisi terang – pandangan teleskopik ini terlihat di sepanjang bidang galaksi Bima Sakti kita ke arah konstelasi kaya nebula Cygnus the Swan. Populer dengan sebutan Nebula Tulip, awan bercahaya dari gas antar bintang dan debu tersebut juga ditemukan dalam katalog 1959 oleh astronom Stewart Sharpless sebagai Sh2-101.

Sekitar 8,000 tahun cahaya jaraknya, nebula ini telah diketahui bukan satu-satunya awan kosmik yang dapat memunculkan citra bunga. Nebula yang kompleks dan indah tersebut ditampilkan disini dalam gambar komposit yang memetakan emisi dari belerang terionisasi, hidrogen, dan atom oksigen ke dalam warna-warna merah, hijau dan biru. Radiasi ultraviolet dari bintang muda dan energik – O HDE 227018 mengionisasi atom-atom dan membangkitkan emisi dari Nebula Tulip. HDE 227018 adalah bintang terang yang berada sangat dekat dengan busur biru di pusat gambar.

NGC 6888: Nebula Crescent


http://astronesia.blogspot.com/

NGC 6888, juga dikenal sebagai Nebula Crescent, adalah gelembung kosmik yang lebarnya sekitar 25 tahun cahaya, ditiup angin dari bintang terang besar di pusatnya. Potret warna-warni dari nebula ini menggunakan data citra pita saluran sempit dikombinasikan dalam Hubble pallate. Ia menunjukkan emisi dari sulfur, hidrogen, dan atom oksigen dari nebula tertiup angin dalam warna merah, hijau dan biru. Bintang pusat NGC 6888 yang diklasifikasikan sebagai bintang Wolf-Rayet (WR 136).

Bintang tersebut menumpahkan lapisan luarnya dalam bentuk angin bintang yang kuat, mengeluarkan materi setara dengan massa Matahari setiap 10.000 tahun. Struktur kompleks nebula kemungkinan adalah hasil dari angin yang kuat berinteraksi dengan bahan yang dikeluarkan pada fase sebelumnya. Pembakaran bahan bakar pada tingkat yang luar biasa dan mendekati akhir hidupnya, bintang ini pada akhirnya harus hilang dalam sekejap dalam ledakan supernova spektakuler. Ditemukan di konstelasi Cygnus yang kaya nebula, NGC 6888 jauhnya sekitar 5.000 tahun cahaya.

Pesawat Ruang Angkasa Di Atas Los Angeles

Sebuah Pesawat Ruang Angkasa Di Atas Los Angeles

Tidak setiap hari pesawat ruang angkasa mendarat di LAX. Meskipun ini adalah yang pertama bagi bandara utama Los Angeles, ini adalah yang terakhir bagi pesawat ruang angkasa Endeavour, setelah ia menyelesaikan tur di atas langit California dan mendarat, walaupun di atas 747, untuk terakhir kalinya. Selama penerbangan terakhirnya pesawat ulang-alik yang merupakan ikon difoto di dekat beberapa ikon milik California termasuk Jembatan Golden Gate di San Francisco, tulisan Hollywood, dan skyline Los Angeles. Sebelumnya, pada bulan Mei, pesawat ruang angkasa Enterprise difoto melewati beberapa ikon kota New York dalam perjalanan ke museum Intrepid Sea, Air and Space.

Digambarkan di atas, pesawat ulang-alik yang membonceng difoto pekan lalu saat mendekati LAX ketika melintas di atas dan melampaui jalan utama Los Angeles. Sekarang pensiun, semua pesawat ulang-alik adalah pajangan museum, dengan pesawat di atas yang dijadwalkan akan ditarik sepanjang jalan dari LA ke California Science Center.

IC 4628: Nebula Prawn

http://astronesia.blogspot.com/


Sebelah selatan Antares, di ekor nebula kaya konstelasi Scorpio, terdapat nebula beremisi, IC 4628. Bintang panas dan besar terdekat, jutaan tahun umurnya, menyinari nebula dengan sinar ultraviolet yang tak terlihat, melepaskan elektron-elektron dari atom.

Elektron-elektron akhirnya bergabung kembali dengan atom-atom untuk menghasilkan cahaya nebula terlihat, didominasi oleh emisi merah dari hidrogen. Terletak pada jarak sekitar 6.000 tahun cahaya, wilayah yang ditampilkan lebarnya sekitar 250 tahun cahaya, mencakup wilayah seluas empat bulan penuh di langit. Nebula ini juga dikatalogkan sebagai Gum 56 untuk menghormati astronom Australia Gum Colin Stanley, tapi astronom pecinta seafood mungkin mengenali awan kosmik ini sebagai Nebula Prawn

Galaksi MG J0414+0534 Air Terjauh di Galaksi Asing

Air ternyata tidak hanya dimiliki bumi. Komponen yang satu ini tersebar di alam semesta dalam berbagai bentuk, baik cair, padat, maupun gas. Pencarian air selalu menjadi hal yang menarik, karena air senantiasa diidentikkan dengan kehidupan. Nun jauh di salah satu sudut alam semesta, para astronom berhasil menemukan air terjauh yang pernah terlihat. Air tersebut berada di sebuah galaksi yang jaraknya lebih dari 11 milyar tahun cahaya dari Bumi. Sebelumnya, air paling jauh yang berhasil ditemukan berada di galaksi yang berjarak 7 milyar tahun cahaya dari Bumi.



Jejak gelombang radio yang menunjukkan keberadaan air di galaksi jauh. Kredit: Milde Science Communication, STScI, CFHT, J.-C. Cuillandre, Coelum. Click on image for details and more graphics.

Tanda keberadaan air berhasil ditemukan menggunakan teleskop radio raksasa berdiameter 100 meter di Effelsberg, Jerman, dan Very Large Array milik National Science Foundation di New Mexico.
Galaksi berair yang dikenal dengan nama MG J0414+0534, memiliki quasar — lubang hitam supermasif yang memancarkan cahaya yang sangat terang — di intinya. Pada area di dekat inti, molekul air bertindak sebagai maser (Microwave Amplification by Stimulation Emission of Radiation) yang sama kuat dengan laser, dan menguatkan gelombang radio pada frekuensi tertentu. Penemuan ini mengindikasikan keberadaan maser air raksasa lebih umum terdapat pada saat alam semesta dini dibanding sekarang. Pengamatan yang dilakukan sekarang berhasil melihat kondisi MG J0414+0534 saat alam semesta masih berusia 1/6 dari usia saat ini.

Pada galaksi yang jaraknya sangat jauh, bahkan penguatan gelombang radio terkuat yang dlakukan oleh maser tidak cukup kuat untuk bisa dideteksi teleskop radio. Namun, para ilmuwan justru mendapat bantuan dari alam dalam bentuk galaksi lain yang berjarak hampir 8 milyar tahun cahaya serta berada di garis pengamatan MG J0414+0534 dan Bumi. Gravitasi galaksi tersebut bertindak sebagai lensa yang membuat galaksi jauh lebih terang dan pancaran molekul air jadi tampak oleh teleskop radio.

Sinyal keberadaan air di jarak yang sangat jauh ini bisa diketahui dengan bantuan lensa gravitasi. Teleskop kosmik tersebut mereduksi waktu yang dibutuhkan untuk dapat mendeteksi air dalam faktor sekitar 1000.
Sinyal air pertama kali dideteksi oleh teleskop Effelsberg dan kemudian digunakan VLA untuk mempertajam kemampuan pencitraan yang bisa mengkonfirmasi asal galaksinya. Keberadaan lensa gravitasi memberikan 4 citra MG J0414+0534 yang terlihat dari Bumi. Dengan VLA, para peneliti bisa menemukan gelombang radio yang spesifik menyatakan keberadaan air pada 2 citra terang yang dihasilkan. Dua citra lainnya terlampau lemah untuk bisa dideteksi keberadaan sinyal airnya. Frekuensi yang dipancarkan molekul air merupakan pergeseran Doppler akibat pengembangan alam semesta dari 2,2 GHx – 6,1 GHz.

Air yang bertindak sebagai maser sudah ditemukan pada sejumlah galaksi yang jaraknya dekat. Biasanya, air diperkirakan berada dalam piringan molekul yang mengorbit lubang hitam supermasif pada jarak yang sangat dekat di inti galaksi. Pancaran gelombang radio yang mengalami penguatan biasanya akan teramati saat piringan tampak dari samping dan terlihat tepiannya. Namun, ternyata orientasi galaksi MG J0414+0534 saling berhadapan dengan Bumi. Dengan demikian, molekul air yang kita lihat dalam maser bukan di dalam piringan melainkan dalam materi yang terlontar sebagai akibat lontaran gravitasi lubang hitam yang diorbitnya. Materi yang terlontar tersebut bergerak dalam jet super cepat.

Sumber : NRAO

Apakah Matahari Mengelilingi Bimasakti?

Matahari di galaksi Bimasakti. Kredit : NASA

Matahari dan semua planetnya berada di dalam sebuah galaksi yakni Galaksi Bima Sakti. Kalau Bumi dan seluruh planet di Tata Surya bergerak mengelilingi Matahari, maka Matahari dan seluruh sistem di dalamnya bergerak mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti yang selama ini jadi rumahnya. Di dalam galaksi Bima Sakti, Matahari berada di salah satu lengan spiralnya pada jarak 26000 tahun cahaya dari pusat Bima Sakti. Dan pusat galaksi BImasakti merupakan sebuah lubang hitam supermasif.

Matahari bergerak mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti dalam orbit yang hampir lingkaran dengan kecepatan 782000 km/jam.  Waktu yang dibutuhkan oleh Matahari untuk menyelesaikan satu putaran mengelilingi pusat Bima Sakti adalah 226 juta tahun dan semenjak pertama kali terbentuk 4,6 milyar tahun lalu Matahari baru 20,4 kali mengelilingi pusat Bima Sakti.

Matahari akan terus berputar mengelilingi pusat Bima Sakti. Ia masih akan melakukan 31 putaran lagi sampai ia kehabisan bahan bakar hidrogn di inti dan masuk tahap evolusi berikutnya sekitar 7 milyar tahun dari sekarang.

sumber

Definisi Ulang 1 Satuan Astronomi

Berapa jarak Bumi – Matahari? Jawaban paling mudah adalah 1 Astronomical Unit (au) atau kalau dalam bahasa Indonesia jadi 1 Satuan Astronomi (SA). Ini memang cara mudah mengingat jarak Bumi – Matahari atau sebagai skala jarak dalam Tata Surya. Jauh lebih mudah mengingat jarak Mars – Matahari kurang lebih 1,5 au daripada jarak sebenarnya yang ratusan juta km.



Nah angka 1 au ini juga tidak muncul dengan tiba-tiba melainkan dari perhitungan panjang yang dimulai oleh Aristarchus dari Samos, pemikir abad Yunani Klasik. Ia memperkirakan jarak Bumi-Matahari hanya 20 kali jarak Bumi-Bulan (jarak Bumi-Bulan: 384 000 km), tapi ternyata perkiraannya meleset jauh karena jarak Bumi-Matahari ternyata sekitar 390 kali jarak Bumi-Bulan.

Pengukuran presisi pertama kali dilakukan pada tahun 1672 oleh Giovanni Cassini dan rekannya Jean Richer yang mengamati Mars dari 2 lokasi berbeda yakni Paris dan Guyana Prancis. Dengan menggunakan sistem parallax, para astronom berhasil menghitung jarak Bumi – Mars dan menggunakan hasil tersebut untuk menghitung jarak Bumi – Matahari. Hasilnya mereka menemukan kalau jarak Bumi – Matahari 140 juta km. Tidak terlalu jauh dari hasil perhitungan saat ini.

http://astronesia.blogspot.com/

Perhitungan dengan sistem parallax ini merupakan satu-satunya metode perhitungan yang dapat dipercaya untuk menghitung jarak di sistem Tata Surya. Dan jarak rata-rata Bumi – Matahari, 149.597.870.691 meter,  kemudian didefinisikan sebagai 1 Astronomical Unit atau 1 Satuan Astronomi yang juga digunakan untuk menyatakan jarak dalam skala tata surya kita.

Tapi amandemen IAU 1976 System of Astronomical Constants mendefinisikan satuan astronomi sebagai “jari-jari orbit sirkular mengelilingi matahari yang bergerak dengan gerak rata-rata 0.01720209895 radian per hari”.  Hal ini dilakukan  dengan asumsi jarak Bumi – Matahari tidak dapat dihitung dengan akurat. Harga 0.01720209895 merupakan konstanta Gauss.

Penetapan definisi 1 au berdasarkan konstanta Gauss ini menyulitkan para astronom yang bekerja dalam pemodelan Tata Surya. Bagaimana tidak? Ketika Einstein memperkenalkan teori relativitas umum, maka kita tahu kalau ruang waktu itu relatif bergantung pada lokasi pengamat. Dengan demikian satuan astronomi juga bergeser sampai ribuan meter bahkan lebih ketika kerangka acuannya bergeser. Meskipun memang untuk kasus wahana antariksa pergeseran ini tidak berpengaruh karena jarak sudah dihitung dengan kerangka acuan Bumi.

Masalah lainnya datang dari Matahari. Konstanta Gauss bergantung dengan massa Matahari ( k = (GMs)1/2 ). Jadi ketika Matahari mengalami kehilangan massa saat ia meradiasikan energinya, konstanta Gauss pun berubah dan artinya lagi satuan astronomi juga mengalami perubahan secara perlahan.

Tapi kan perkembangan teknologi masa kini sudah mampu untuk mengukur jarak Bumi – Matahari dengan tingkat akurasi tinggi.  Pengukuran jarak tersebut bisa dilakukan menggunakan laser ataupun wahan antariksa. Karena itu dirasa perlu untuk mendefinisi ulang harga tepat 1 au untuk digunakan secara umum.
Dalam IAU GA di Beijing, China pendefinisian ulang ini dilakukan melalui voting anggota IAU yang hadir. Hasilnya disetujui adanya penetapan 149.597.870.700 meter sebagai 1 au dan simbol “au” digunakan untuk menyatakan Astronomical Unit atau Satuan Astronomi.

Lantas apakah definisi ulang ini memberikan efek pada Bumi? Tentu saja tidak. Bumi tetap pada tempatnya dan akan terus bergerak mengelilingi barycenter yang berada sangat dekat dengan Matahari. Tapi bagi astronom penentuan harga 1 au tersebut menunjukkan kalau saat ini manusia sudah bisa menentukan jarak yang presisi antara Bumi – Matahari.

10 Planet Baru yang Aneh dan Unik


 
Alam semesta tidak ada habisnya untuk dijelajahi dan dipelajari. Pada tahun 1990, para ilmuwan menemukan sejumlah planet baru yang aneh dan unik di luar tata surya (exoplanet). Planet-planet tersebut sangat beragam. Mulai dari planet api, planet berukuran raksasa, planet  berbatu, planet  yang tidak memiliki bintang, dan banyak lagi. Hingga kini, penemuan exoplanet mencapai 230 planet. Berikut adalah daftar sepuluh exoplanet 2009 versi Space.com
 
1. Sang Kuda Api




Planet 51 Pegasi b adalah exoplanet pertama yang ditemukan para pemburu planet pada 1990. Planet mirip Jupiter, namun bertemperatur panas ini diberi julukan Bellerphon, pahlawan mitos Yunani yang menjinakkan kuda bersayap Pegasus. Pemberian julukan tersebut berdasarkan gugus bintang Pegasus, lokasi planet itu.


2. Tetangga Terdekat Bumi



Berjarak hanya 10,5 tahun cahaya, Epsilon Eridani b adalah exoplanet terdekat dengan bumi. Planet tersebut mengorbit jauh dari bintangnya sehingga air atau kehidupan mustahil ada.

3. Planet Tanpa Bintang

Terdapat sejumlah exoplanet yang memiliki bintang atau matahari lebih dari satu, bahkan hingga memiliki tiga matahari. Lain halnya dengan Planemos. Planet tersebut hanya "mengambang" begitu saja tanpa mengitari bintang apa pun.


4. Si Gesit

Planet SWEEPS-10 hanya berjarak 740.000 mil dari bintangnya. Saking dekatnya, planet yang disebut ultra-short-period planets (USPPs) itu hanya membutuhkan waktu kurang dari satu hari untuk mengorbit. Satu tahun di sana sama dengan sepuluh jam di bumi.

5. Dunia Api dan Es

Planet ini "terkunci" pada bintangnya, sama seperti bulan yang selalu menjadi satelit bumi. Jadi, satu sisi dari planet Upsilon Andromeda b selalu menghadap ke sana. Posisi ini menciptakan temperatur paling tinggi yang sejauh ini diketahui para astronom. Satu sisi planet sangat panas bagai lahar, sedangkan sisi lainnya bertemperatur sangat dingin.


6. Cincin Raksasa

Planet yang mengorbit pada bintang Coku Tau 4 ini adalah exoplanet termuda yang berumur kurang dari satu juta tahun. Para astronom mendeteksi keberadaan planet ini dari lubang besar dari cincin planet tersebut. Lubang tersebut berukuran sepuluh kali lebih besar dari bumi.


7. Si Tua Bangka

Planet tertua yang juga disebut primeval world ini berumur kurang lebih 12,7 miliar tahun. Para ilmuwan menduga planet tersebut terbentuk delapan miliar tahun silam sebelum bumi terwujud dan hanya berselisih dua miliar tahun dari kejadian Big Bang. Penemuan ini menimbulkan wacana bahwa kehidupan mungkin terjadi lebih awal dari yang diduga selama ini.




8. Planet yang Menyusut

Serupa dengan SWEEPS-10, planet HD209458b mengorbit sangat dekat dengan bintangnya sehingga atmosfer planet tersebut tersapu oleh angin stellar. Sejumlah ilmuwan mengestimasi planet tersebut kehilangan sepuluh ribu ton material setiap detiknya. Pada akhirnya, mungkin hanya inti dari planet itu yang akan tersisa.



9. Si Atmosfir Tebal


Planet HD 189733b adalah planet pertama yang atmosfernya "tercium" oleh para ilmuwan. Dengan menganalisis cahaya dari sistem bintang planet itu, astronom mengatakan atmosfir planet tersebut tertutup oleh semacam kabut tebal serupa dengan butiran pasir. Sayangnya, air tidak terdeteksi di planet tersebut. Namun, pemburu planet menduga ada kehidupan di balik kabut tebal itu.


10. Kembaran Bumi?

Gliese 581 C adalah exoplanet yang saat ini banyak menarik perhatian para ilmuwan di seluruh dunia. Pasalnya, planet terkecil di luar sistem tata surya ini berada di "zona aman". Artinya, planet ini terletak tidak terlalu jauh maupun terlalu dekat dengan bintangnya, sama seperti posisi bumi kita dengan matahari. Penemuan ini menaikkan probabilitas terdapat air atau bahkan kehidupan di sana. Planet ini 50 persen lebih besar dan lima kali lebih masif dari bumi.


Mungkinkah ada kehidupan lain di luar sana? Para ilmuwan mengatakan dapat lebih menguak hal tersebut pada tahun 2013, saat pengerjaan teleskop berteknologi tinggi bernama James Webb Space Telescope (JWST)

FOTO: Planet-planet Aneh di Alam Semesta / Jagat Raya

Alam semesta kita begitu luasnya dan diisi benda-benda angkasa, termasuk planet dan bintang dengan jumlah tidak terhingga. Dari sejumlah planet yang sudah diketahui manusia, ada beberapa diantaranya yang aneh dan unik.

Misalnya, planet WASP-12b. planet ini diketahui sebagai planet paling panas yang pernah ditemukan. Suhunya, mencapai 3.200 derajat Celcius! Ini baru di permukaan saja.

Ada lagi planet lain bernama planet Dubbed TrES-4. Ini merupakan planet terbesar yang diketahui hingga saat ini. Ukurannya 1,7 kali planet Jupiter. Sebagai perbandingan, ukuran Jupiter sendiri, 120 kali ukuran Bumi yang kita tinggali.

Selain itu, ada lagi planet yang seluruh permukaannya diisi oleh air. Untuk melihat foto-foto cantik dari planet-planet aneh tersebut

1. planet Paltry

Planet Paltry memiliki 3 Matahari. Jaraknya dari bumi sekitar 149 tahun cahaya. Foto: NASA/JPL's planetquest/Caltech 


Planet Paltry
2. Planet SWEEPS-10

Planet SWEEPS-10 memiliki kecepatan orbit tercepat. Waktu yang dibutuhkan planet ini untuk sekali mengelilingi bintangnya hanya sekitar 10 jam. Foto: NASA, ESA, A. Schaller (for STScI)  

http://astronesia.blogspot.com/
Planet SWEEPS-10
3. Planet GJ 1214b

Astronom memperkirakan seluruh permukaan planet GJ 1214b tertutup oleh air. planet yang besarnya 3 kali ukuran bumi ini terletak sekitar 40 tahun cahaya dari bumi. Foto: David A. Aguilar, CFA  

Planet GJ 1214b
4. Planet Dubbed TrES-4

Planet Dubbed TrES-4 merupakan planet terbesar yang diketahui hingga saat ini. Ukurannya 1.7 x planet Jupiter. Jaraknya dari bumi sekitar 1400 tahun cahaya. Foto: Jeffrey Hall, Lowell Observatory 


Planet Dubbed TrES-4
5. Planet Kepler-10b

Planet Kepler-10b, hingga saat ini di ketahui sebagai planet terkecil di luar sistem tata surya. planet kerdil ini ditemukan pada Januari 2011. Foto: NASA 


Planet Kepler-10b
6. Planet Epsilon Eridani b

Planet Epsilon Eridani b jaraknya sangat dekat dengan bumi, hanya sekitar 10.5 tahun cahaya. Sedemikian dekatnya hingga kita bisa mengamatinya dengan teleskop. Foto: NASA, ESA, G.F. Benedict 


Planet Epsilon Eridani b
7. Planet OGLE-2005-BLG-390L b

Planet OGLE-2005-BLG-390L b adalah planet yang terdingin dan terjauh jaraknya dari bumi, sekitar 28 ribu tahun cahaya. Foto: ESO  

Planet OGLE-2005-BLG-390L b
8. Planet WASP-12b

Planet WASP-12b adalah planet paling panas yang pernah ditemukan. Suhu permukaannya mencapai 3.200 derajat Celcius. Letaknya 870 tahun cahaya dari bumi. Foto: ESA/NASA

http://astronesia.blogspot.com/
Planet WASP-12b

Benda-benda Langit Terbesar di Alam Semesta

Semesta terdiri atas benda-benda langit. Di antara benda langit tersebut, terdapat beberapa yang termasuk terbesar dalam ukurannya. Berikut merupakan benda langit terbesar sesuai kategorinya.



Perbandingan beberapa planet dan bintang
 

Planet Terbesar

Jupiter merupakan planet terbesar di tata surya. Tapi, planet terbesar di semesta adalah TrES-4b yang ditemukan pada tahun 2006, mengorbit bintang yang berjarak 1500 tahun cahaya dari Bumi. Diameter planet ini 1,8 lebih besar dari Jupiter.

Perbandingan Jupiter dengan TrES-4b

Planet terbesar itu masih dalam perdebatan menyusul hasil observasi terbaru EASP-17b. planet ekstrasurya yang terletak 1000 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki massa setengah Jupiter itu dikatakan mempunyai diameter 2 kali Jupiter.

Artefak terbesar

Sejauh ini artefak terbesar di semesta adalan International Space Station yang memiliki lebar 190 meter dan berat 370 ton. Dalam hal ini artefak adalah benda langit buatan manusia.

Galaksi terbesar

Berdasarkan model standar pembentukan galaksi, galaksi terbesar adalah monster eliptikal yang terbentuk dari penggabungan galaksi yang lebih kecil. Contoh galaksi terbesarnya adalah IC 1101 yang berbentuk lensa. galaksi ini terletak milyaran tahun dari Bumi, di tengah kluster galaksi Albell 2029. Diameter galaksi ini mencapai 6 juta tahun cahaya, membuatnya memiliki volume ribuan kali dari Bima Sakti.

Lubang terbesar

Yang dimaksud bukan lubang hitam, tapi merupakan hamparan kegelapan. galaksi tersusun dalam sebuah tembok besar berukuran beberapa ratusan tahun cahaya dengan sebuah ruang kosong di antaranya. Ruang kosong terbesar ditemukan pada tahun 2007 berukuran hampir satu miliar cahaya.

Bintang terbesar

Bintang terbesar adalah VY Canis Majoris, terletak 5000 tahun cahaya dari Bumi. Diameternya diperkirakan mencapai 3 miliar kilometer. Perkiraan tersebut sedang diklarifikasi lagi sebab beberapa astronom memperkirakan bahwa diameternya hanya 1 miliar kilometer.

VY Canis Majoris, Bintang Terbesar di Alam Semesta yang Diketahui Manusia

 

VY Canis Majoris adalah bintang terbesar di alam semesta (jagat raya) yang diketahui oleh manusia. VY Canis Majoris berada di gugusan bintang Canis Major. Karena saking besarnya, ia termasuk salah satu
bintang yang paling terang cahayanya. Letaknya sekitar 4.900 tahun cahaya dari bumi.

Bintang ini pertama kali diketahui berdasarkan katalog dari Jerome Lalande pada 7 Maret 1801. Katalog tersebut mencatat VY Canis Majoris sebagai 7 bintang besar. Sejak tahun 1847, VY Canis Majoris diketahui sebagai bintang merah. Dengan suku sekitar 3000 K, suhu yang termasuk dingin untuk sebuah bintang.

Tidak seperti bintang-bintang besar lainnya VY canis majoris adalah bintang tunggal dan bukan sistem bintang yang dalam satu tata surya memiliki lebih dari satu bintang.Ukuran VY Canis Majoris sangatlah besar jika dibandingkan dengan tata surya kita besar diameternya kira-kira dari Matahari sampai melampaui orbit Saturnus (9 kali jarak Matahari ke bumi) atau 3.063.000.000 km, dan jika dilihat dari kecepatan cahaya VY Canis Majoris harus ditempuh 8 jam oleh kecepatan cahaya untuk mengitarinya sekali putaran. Untuk bahan perbandingan cahaya hanya memerlukan waktu 14,5 detik untuk memutari Matahari kita. Diperlukan 7.000.000.000.000.000 (7 quadrilion) bumi untuk mengisi volumenya. Sedangkan bila dibandingkan dengan Matahari kita, perbadingannya adalah 1 Milyar untuk Matahari dan 1 untuk VY Canis Mayoris.

http://astronesia.blogspot.com/
Perbandingan planet dan bintang

Perbandingan Matahari kita dengan VY Canis Majoris

Perbandingan Matahari kita dengan VY Canis Majoris

Polarisasi cahaya yang terjadi karena ledakkan dahsyat di VY Canis Majoris

VY Canis Majoris boleh dibilang adalah bintang yang sekarat. Seperti bintang besar lainnya, VY Canis Majoris menjadi begitu besar karena bahan bakar yang berupa hidrogen telah habis di dalamnya dan mulai menggabungkan hidrogen dengan kulit luar dari inti helium. Bahkan VY Canis Majoris dapat lebur bersama helium, lithuim dan sebagainya. akhirnya ia akan memiliki inti yang terdiri dari besi seperti halnya planet. Masalahnya setelah reaksi fusi terbentuknya inti besi tersebut, mereka tidak menghasilkan energi sehingga tidak mampu mengimbangi tekanan gravitasi yang dihasilkan oleh bintang. Ketika semua bahan bakar fusi habis, bintang akan runtuh serempak dalam sebuah ledakan supernova dan akan menjadi lubang hitam.

Bintang VY Canis Majoris saat ini masih menjadi bintang terbesar yang diketahui manusia, namun belum menjadi bintang yang terbasar di jagat raya, karena masih banyak bintang di alam semesta yang belum diketahui dan dijangkau oleh ilmu pengetahuan manusia.

Sumber: wikipedia, wisegeek

Tags: Bintang terbesar, bintang terbesar di alam semesta, bintang terbesar yang diketahui manusia, VY Canis Majoris, VY Canis Majoris bintang terbesar di jagat raya

Galaksi LEDA 074886, Galaksi Unik Berbentuk Persegi Panjang

LEDA 074886, galaksi dengan bentuk persegi panjang.
Galaksi ini disebut dengan julukan "Galaksi potongan zamrud". galaksi unik berbentuk persegi panjang ini ditemukan oleh tim astronom internasional dan Swinburne University of Technology Australia. Astronom memberi nama galaksi itu sebagai LEDA 074886 yang merupakan galaksi kerdil yang terletak 70 juta tahun cahaya dari Bumi dan tergabung dalam kelompok 250 galaksi lainnya.

"Hal ini menarik untuk ditemukan" Ungkap Dr Alister Graham penulis utama dan profesor di Pusat Astrofisika dan super komputer di Universitas Swinburne. "Sata telah melihat ribuan galaksi, dan mereka tidak terlihat seperti ini," tambahnya.

Dikutip dari universetoday.com, Selasa (20/03/2012), galaksi LEDA 074886 ditemukan dengan menggunakan teleskop Subaru Jepang oleh astrofisikawan Dr Lee Spitler. Diperkirakan bentuk galaksi yang aneh ini disebabkan oleh tabrakan antara dua galaksi yang mungkin lebih besar dari galaksi NGC 1407.

Awalnya kami berpikir bahwa mungkin ada beberapa interaksi gravitasi pasang-surut yang telah menyebabkan galaksi LEDA 074886 ini memiliki bentuk yang tidak biasa, namun kami tidak begitu yakin. Kami lebih yakin bahwa bentuk yang tidak biasa ini dihasilkan dari tabrakan dua galaksi berbentuk cakram," kata Dr Graham.

http://astronesia.blogspot.com/
Galmbar False color galaksi LEDA 074886 yang diambil oleh Telskop Subaru. Kontras warna ditingkatkan untuk menunjukkan struktur dari disk (piringan) di pusat galaksi

Selain bentuknya yang aneh, LEDA 074886 juga memiliki disk (piringan) bintang di dalamnya sejajar dengan garis panjang galaksi. Disk bintang ini berputar dengan kecepatan 33 km per detik dan belum dapat dipastikan apakah bentuknya spiral atau tidakkarena saat observasi, posisi instrumen astronomi tidak relatif untuk itu.

Meskipun bentuk galaksi persegi panjang ini jarang terjadi, namun hal ini menjadi bagian dari beberapa bentuk galaksi yang ada. Dr Graham mengatakan, "jika orientasi itu tepat, ketika galaksi kita bertabrakan dengan galaksi Andromeda 3 miliar tahun dari sekarang, maka kita mungkin akan menjumpai galaksi kita berbentuk persegi panjang."

NGC 253:Kembaran Galaksi Bima Sakti

Astronom menemukan pusat galaksi yang dianggap sebagai kembaran Bima Sakti. Inilah Sagittarius A*, sumber gelombang radio yang terletak pada inti galaksi.

Ilmuwan kini mempelajari galaksi spiral yang spektakuler, NGC 253 yang ditemukan dengan Very Large Telescope (VLT) di Chile dan Teleskop Antariksa Hubble milik NASA. Di saat yang sama, mereka berhasil sedikit memahami soal inti galaksi Sagittarius A*.

Andrea Ghez, profesor ilmu fisika dan astronomi dari University of California, Los Angeles (UCLA) yang mempelajari bintang dan planet, mengatakan kepada Daily Galaxy, kombinasi antara pengamatan lubang hitam yang terbentuk miliaran tahun lalu dan proses runtuhan bintang raksasa akan menciptakan pemahaman menakjubkan soal objek tunggal supermasif.

Headline
NGC 253
Penelitian Ghez terfokus kepada kehidupan awal bintang dan planet dan proses distribusi materi di galaksi. Dengan menggunakan teknik terbaru, Ghez berhasil membuktikan orbit bintang ternyata bisa membentuk lubang hitam. Tapi, ini bukan lubang hitam biasa, melainkan bersosok sangat besar.

Lubang hitam yang mereka temukan itu ternyata tiga juta kali lebih besar dari Matahari dan termasuk dalam kontelasi Sagitarius. Inti lubang hitam di galaksi Bima Sakti inilah yang disebut sebagai Sagittarius A*.

Sayangnya, ilmuwan masih belum bisa memahami secara deskriptif apa isi lubang hitam itu dan bagaimana proses pembentukannya.

Astronom menghabiskan puluhan tahun untuk mempelajari pusat kekuatan misterius di galaksi Bima Sakti yang memiliki jarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi. Namun, belum bisa dipastikan jenis objek itu.

NGC 1097, Galaksi dengan Lubang Hitam yang sangat Ganas

 
Galaksi NGC 1097 adalah sebuah galaksi yang memiliki lubang kitam yang sangat besar dan ganas. Bentuk Galaksi tersebut spiral seperti galaksi kita (Bima Sakti) tapi di pusatnya terdapat lubang hitam ganas dikelilingi oleh badai pembentukan bintang. Galaksi NGC 1097 terletak 50 juta tahun cahaya dari Bumi.


Mata "Sauron" di pusat galaksi disebabkan oleh sebuah lubang hitam mengerikan, yang tidak dapat dilihat tetapi dikelilingi oleh cincin bintang dan bintang-bintang baru yang lahir dengan sangat banyak. Dalam pandangan kode warna inframerah baru dari NASA's Spitzer Space Telescope, daerah di sekitar lubang hitam terlihat seperti cincin biru dan bintang-bintang putih.

Lubang hitam tidak dapat dilihat karena materi dan cahaya terperangkap di dalamnya. Tapi mereka dapat diidentifikasi oleh interaksi gravitasi dengan lingkungan sekitar mereka dan kegiatan benar-benar sangat kacau yang terjadi di sana.
http://astronesia.blogspot.com/
Formasi bintang di galaksi NGC 1097

File:Coiled Galaxy.jpg
Dalam foto Spitzer dari NGC 1097, cahaya inframerah dengan gelombang cahaya pendek berwarna biru, sedangkan gelombang cahaya panjang berwarna merah
File:Phot-35d-04-fullres.jpg
Galaksi NGC 1097
http://astronesia.blogspot.com/

Lubang hitam itu sangat besar, sekitar 100 juta kali massa matahari kita, dan ia memakan gas dan debu bersama dengan bintang. Lubang hitam digalaksi kita lebih stabil dari pada lubang hitam di NGC 1097, dengan massa yang hanya beberapa juta kali matahari.

"Nasib dari lubang hitam seperti itu adalah sebuah kawasan riset yang aktif," kata George Helou, wakil direktur NASA's Spitzer Science Center di Institut Teknologi California di Pasadena. "Beberapa teori mengatakan bahwa lubang hitam mungkin tenang dan akhirnya memasuki keadaan kami lebih aktif seperti lubang hitam Bima Sakti."


Galaksi spiral dengan lengan berwarna merah dan jari-jari berputar-putar terlihat di antara debu menunjukkan bahwa lengan galaksi tersebut dipanaskan oleh bintang-bintang yang baru lahir.

Gambar ini diambil saat misi ""cold mission,"" yang berlangsung lebih dari lima setengah tahun. Kalau anda pernah melihat film Lord of The Ring, maka lubang hitam digalaksi NGC 1097 mirip seperti mata Sauron.
Powered by Blogger.